Jualan di Online Shop-Kultwit & StrategiNo Comments

Selamat Idul Adha bagi umat muslim yang merayakannya beberapa hari lalu. Sudah berapa macam santapan daging kambing dan sapi yang Anda makan beberapa hari terakhir ini? Sudah cek kolesterol? 🙂

Selepas solat Idul Adha saya menyaksikan beberapa binatang qurban yang siap disembelih. Kambing dan sapi yang dikumpulkan nyaris memiliki ukuran tubuh dan perawakan yang sama. Makanya ditandai nomor di tubuhnya supaya tidak tertukar itu milik siapa.

Lain cerita kalo salah satu sapi disitu ada yang berwarna ungu. Semua pasti bisa langsung mengenalinya diantara yang lain. Karena jelas beda warnanya tanpa harus dinomori. Saya langsung teringat dengan sebuah buku lama berjudul Purple Cow karangan Seth Godin.

Dalam buku tersebut menjelaskan bahwa sekumpulan sapi yang berwarna putih-hitam-coklat akan terlihat seragam dan sulit dikenali satu sama lain. Namun akan sangat berbeda jika ada satu sapi yang berwana ungu. Sapi ungu dari kejauhan akan terlihat berbeda dan sangat mudah dikenali.

Begitupun dengan bisnis Anda. Ibarat sapi, bisnis Anda pun harus terlihat seperti “SAPI UNGU”. Warna ungu menarik perhatian, sangat mudah dan selalu diingat, tidak membosankan, dan menjadi bahan pembicaraan. Jika Anda membuat bisnis Anda begitu standard, maka sama saja Anda telah menghilangkan bisnis Anda dari peredaran.

Saat saya mencoba search #jualhijab di Instagram, terlihat banyak tumpah ruah yang berjualan hijab di Instagram. Saya bingung akan mulai dari mana karena semua gambar terlihat sama. Sampai akhirnya saya klik gambar yang memiliki kualitas gambar paling baik dengan model cantik dan pose menawan.

Tapi untuk menjadi “ungu” tidak hanya bermain di gambar saja. Menjadi “ungu” tidak hanya sekedar menjadi unik. Seperti yang sudah saya sebut diatas, menjadi “ungu” itu selain menarik perhatian, tapi juga mudah diingat, tidak membosankan, dan jadi bahan pembicaraan. Godin menyingkat semuanya menjadi ‘remarkable’.

Saya baru temukan “ungu” di BengBeng setelah produk itu mengeluarkan cara makan yang beda. Saya juga baru temukan “ungu” di Sprite ketika Cak Lontong jadi pengisi suara di iklan nyelenehnya itu. Tapi saya belum temukan “ungu” di minuman teh kemasan, terbukti ketika membuka lemari pendingin di minimarket, semua teh terlihat sama saja. Saya ambil teh botol, bukan karena “ungu”, tapi karena mereknya paling dikenal.

Anda harus temukan ide anti mainstream untuk menjadi “UNGU”. Carilah inspirasi dari sekitar kita, dari membaca buku, ngobrol di grup bisnis,  nonton iklan di televisi, dari postingan akun selebgram, atau dari akun facebook mantan. Hati-hati jangan sampai foto mantannya ke-like 😀

Sudahi membaca artikel ini dengan merenung apakah bisnis Anda “ungu” atau belum? Silakan ngobrol langsung dengan saya jika ada permasalahan online di LINE @tipsjualonline (pake @). Sebarkan juga artikel ini di Twitter, Facebook, atau Google+. Terimakasih.

Comment closed!