Kultwit & StrategiNo Comments

Ini adalah jawaban singkat saya tentang pertanyaan di atas yang ditanyakan di LINE @Tipsjualonline beberapa waktu yang lalu.

Seseorang bercerita bahwa dia memiliki website untuk jualan online, juga memiliki beberapa channel social media untuk memasarkan produknya. Namun hingga saat ini masih sangat jarang orang yang berbelanja via website. Kebanyakan belanja lewat chatting.

Dia merasa bahwa biaya membuat website online shop tidak sepadan dengan hasil yang didapatkan. Dia berencana akan menutup websitenya sehabis masa sewanya selesai.

Kondisi sekarang beda dengan dulu. Dulu orang-orang merasa sulit untuk belanja di website. Ada beberapa alasan seperti:

  1. Tahapan belanja yang ribet dilakukan di website.
  2. Gak sreg kalo gak ngobrol dengan penjualnya langsung.
  3. Website tidak nyaman di akses via mobile (mengingat kebanyakan user menggunakan smartphone).

Ini hanya masalah waktu. Semakin kesini konsumen online semakin terbiasa belanja via website. Edukasi yang dilakukan banyak ecommerce besar seperti Blibli, Lazada, Bhinneka, Tokopedia, Bukalapak, dll membuat konsumen online mulai merasa nyaman transaksi di website.

Ditambah lagi website sekarang cenderung lebih ‘ramah’ untuk digunakan pengguna termasuk via mobile. Jadi secara teknis dan penggunaan harusnya tidak lagi menjadi masalah utama.

Masalahnya mungkin terletak di sisi marketing dan pelayanannya. Tentu jika Anda masih membuka funnel layanan lewat chat (BBM, WA, LINE) calon konsumen Anda tentu akan memilih via chat. Begitupun saya. Seandainya Blibli atau Lazada memfasilitasi pembelian via chat, sepertinya akan lebih banyak yang beli via chat juga ketimbang langsung Add to Cart. Tapi mereka hanya membuka jalur transaksi via website saja.

Pertanyaan selanjutnya apakah Anda yakin akan menutup semua channel jualan via WA, LINE, BBM? dan mau fokus buka lapak di website saja? Karena ini akan tergantung seberapa calon konsumen pengen, kepincut, kesengsem, dan tertarik membeli produk Anda. Karena jika penawaran dan produk Anda biasa-biasa saja, calon konsumen mungkin akan lebih memilih produk yang mirip di lapak lain yang bisa ditanyain lewat chatting.

Ya, calon konsumen akan kembali ke kebiasaan lama. Balik lagi belanja lewat chatting. Karena ini pula Anda akhirnya menyerah lalu membuka pilihan belanja lewat chatting lagi. Sehingga fungsi Add to cart kembali mubadzir.

Lalu apakah itu tandanya Anda harus menutup Website Anda? No. Jangan. Anda perlu kantor pusat bisnis Anda. Website adalah kantor pusat Anda. KIta tidak pernah tahu kebijakan Facebook, Instagram, marketplace tempat anda berjualan selanjutnya. Gimana kalo tiba-tiba akun Anda disuspend? mau dibawa kemana pelanggan Anda nanti kecuali mereka tau dimana kantor pusat Anda.

Jadi selama kita menanti kebiasaan konsumen online Indonesia seperti konsumen-konsumen di amerika dan eropa (yang sudah biasa dengan transaksi via website), maka kita tetap optimalkan website kita sebagai kantor pusat. Lengkapi katalog produk di website, buat artikel-artikel yang mengajak konsumen Anda satu persatu untuk berkunjung ke kantor pusat Anda secara rutin.

Lalu arahkan pelan-pelan dan bentuk kebiasaan baru konsumen Anda untuk mulai belanja via website saja. Misalnya, dengan memberikan penawaran khusus untuk mereka yang berbelanja di website.

Oiya, selain itu Anda juga butuh website untuk Facebook Pixel.

Semoga artikel ini bermanfaat. Silakan ngobrol langsung dengan saya jika ada permasalahan online di LINE @tipsjualonline (pake @). Sebarkan juga artikel ini di Twitter, Facebook, atau Google+ Anda. Terimakasih.

Comment closed!